Rabu, 19 Desember 2012


Bahaya SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme) bagi ummat Islam

Nampaknya hegemoni barat terus menjalar di tubuh setiap orang di belahan bumi manapun, tak terkecuali bagi orang-orang muslim di seluruh penjuru dunia, arus modernisasi yang deras semakin membawa kita terjerebam dalam hegemoni ini. Banyak sekali  yang terbawa mengikuti arus dan hanyut dalam keindahan serta keglamoran dunia fana . Hingga orang-orang muslim sendiri, seperti kehilangan jati diri mereka yang sebenarnya.
Kemajuan teknologi dan informasi membawa perubahan besar dalam kehidupan kita, sisi positif dan negative tak dapat terelakan, hingga sampai pada puncaknya. Modrenisasi, westernisasi dan sepilis (Sekulerisme, pluralism dan liberalisme) yang seakan-akan membawa angin segar oleh kaum-kaum materialis.


Berikut adalah pengertian Paham SePiLis (Sekulerme, Pluralisme dan Liberalisme)
SEKULARISME
Sekularisme adalah sebuah isme atau sebuah paham yang memisahkan antara urusan agama dan urusan negara. Pada esensinya sekularisme adalah bahwa negara tidak boleh ikut campur pada masalah keyakinan dan peribadatan. Di indonesia pemikir yang pertama kali memperkenalkan paham sekularisme adalah Bung Karno, seorang pemimpin kebangsaan. Beliau berpikir bahwa indonesia adalah bangsa yang plural, bahkan ia memahami bahwa muslim indonesia pun pural, seperti nampak pada banyaknya aliran keagamaan, corak budaya, organisasi islam dan partai politik indonesia. Maka, ia berpendapat bahwa persatuan dalam keragaman adalah kunci keberhasilan mencapai kemerdekaan.
LIBERALISME
Liberalisme adalah suatu isme atau paham yang mengedepan akal dari pada wahyu ilahi. Libelarisme merupakan masalah kebebasan berpikir yang sebenarnya merupakan isu klasik dalam sejarah pemikiran islam. Akal adalah sebuah anugrah dari Allah SWT yang mana akal ini sebagai pembeda antara manusia dan hewan, begitupun Allah memerintahkan kepada manusia untuk berpikir menggunakan akal tenteng semua penciptaan yang ia ciptakan.
PLURALISME
Pluralisme adalah isme atau paham yang berpandangan bahwa semua agama benar. Pada dasarnya liberalisme adalah konsekuensi dari pluralisme, jadi antara sekuralisme, liberalisme dam pluralisme adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Dalam pluralisme ini, diprolamasikan terbentuknya masyarakat yang satu “ ummat-an wahidah “. Namun dalam konstitusi yang merupakan kontrak sosial itu, identitas kelompok tetap diakui, namun mereka bersepakat untuk membantuk solidaritas, itulah hakekat pluralisme yang merupakan reaktualisasi pluralisme di zaman klasik islam. Di indonesia, pluralisme sudah menjadi bagian dari ideolodi nasional yang dirumuskan dengan istilah bhineka tunggal ika, suatu istilah yang berasal dari Empu Tantular, yang artinya kesatuan dalam keragaman ( unity in diversity ).
Jika meneliti awal dari bahaya sepilis ini, maka kita harus memahami akan konsep dari paham tersebut, Negara barat dan orang barat yang memperkenalkan paham tersebut merasa tidak pusa dengan yang mereka dapatkan dalam bidang apapun, agama yang mereka anut tak sesempurna agama islam yang saat ini berada di sanubari kita.
Sama seperti tentang ajaran feminimisme di dunia, dunia barat menggaungkan dan menebarka paham feminimisme, Islam telah mengajrkan pada wanita muslim, ajaran yang saat ini berkembang banyak berasal dari dunia barat, yang tak lain merupakan salah satu perwujudan akan ketidakpuasan hasil yang mereka capai, tak seperti dalam islam yang merupakan agama yang sempurna, semua telah terkandung dalam al-qur’an. Tinggal kita sendiri bagaimana menyikapinya bersama pedoman kita dan manhaj kita.orang-orang barat yang sengaja menghegemonikan ajaran atau faham-faham kita tak lain hanya untuk merusak kita sendiri.
“Suatu Peradaban dapat mengguasai peradaban lain, apabila dia mengetahui system yang dipakai oleh peradaban lain tersebut. Dan begitulah orang-orang barat. Sengaja menghancurkan dan menyesatkan kita dengan ajaran yang mereka bawa, hingga kita terjerebam dalam kenistaan agama”

Islam Mengkaji tentang Pluralisme
Tadabur alqur’an (surat al Kafirun:1-6)
  1. Katakanlah Hai orang-orang kafir
  2. Aku Tidak menyembah tuhan yang kau sembah
  3. Dan kamu juga bukan penyembah tuhan  yang aku sembah
  4. Dan aku tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah
  5. Dan kamu tidak pernah menyembah tuhan yang aku sembah
  6. Untukmu agamamu, untukku agamaku

Asbabul Nusur
Dalam sebuah hadits Riwayat

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Quraisy berusaha mempengaruhi Nabi saw. dengan menawarkan kekayaan agar beliau menjadi seorang yang paling kaya di kota Makkah, dan akan dikawinkan dengan yang beliau kehendaki. Usaha ini disampaikan dengan berkata: "Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun." Nabi saw menjawab: "Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku." Ayat ini (S.109:1-6) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir. Dan turun pula Surat Az Zumar ayat 64 sebagai perintah untuk menolak ajakan orang-orang bodoh yang menyembah berhala.
(Diriwayatkan oleh at-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi saw.: "Sekiranya engkau tidak keberatan mengikuti kami (menyembah berhala) selama setahun, kami akan mengikuti agamamu selama setahun pula." Maka turunlah Surat Al Kafirun (S.109:1-6).
(Diriwayatkan oleh Abdurrazaq yang bersumber dari Wahb dan Ibnul Mundzir yang bersumber dari Juraij.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-'Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata: "Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami." Maka Allah menurunkan ayat ini (S.109:1-6)
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa'id bin Mina.)

Kemajemukan atau Pluralisme
Pluralisme agama memang suatu hal yang wajar, dalam kemajemukan dan keberagaman yang tak memungkinkan akan menutup diri dengan yang lain, tentu pluralisme yang pasti terjadi,
Namun dalam konteks islam, pluralisme yang sebenernya adalah sebuah toleransi, dengan tidak mencampuradukan agama dengan agama lain, saling menghormati tanpa melakukan perpecahan. Setiap orang bebas memeluk agama yang diinginkan, tanpa terpaksa orang lain. Lakum di nukum wali yadid..
Seiring perkembangan zaman dan modernisasi banyak yang tak memahami plularisme yang sebenarnya. Mereka menjadi bangsa yang ikut-ikut dan karbitan. So, tinggal memilih, tetap di sini bersama pedoman kita  atau ikut dalam negatifnya arus modernisasi...

0 komentar:

Posting Komentar