Rabu, 19 Desember 2012


Secangkir Energen untuk Sahabat..
Udara pagi hari di Indralaya, khususnya Subuh di musim hujan dinginnya menusuk tulang persendian. Aku bangun dan langsung menunaikan sholat subuh di lanjutkan al-mat’surat, berkali-kali mulutku tak berhenti menguap, nampaknya tidurku terasa kurang, waktu empat jam belum menghilangkan rasa  kantuk ini, akhirnya ku putuskan untuk memejamkan mata sejenak, karena tubuh kita juga mempunyai hak untuk istirahat. Ketika beribadahpun, Rasulullah juga menganjurkan untuk tidur jika masih dalam keadaaan mengantuk, karena di takutkan dia tidak focus dan sadar kalau sedang menghadap tuhannya.
Ku mulai memejamkan mata, di iringi alunan lagu melayu yang lembut sarat akan kandungan nasehat ala melayu, aku mulai terbuai dengan alunan musik ini, yang selalu kurindukan akan kebangkitannya, karena sekarang anak muda dan tua tidak begitu banyak meminati lagu ini, bahkan anak-anakpun yang seharusnya mendengarkan lagu anak-anak, tetapi mereka seakan-akan tak menikmati masa itu, inilah salah satu hal terkadang membuatku gelisah, maklum saja aku yang mulai ditempah akan menjadi seorang pendidik, berkeinginan unntuk mengubah pola ini, dan mengenalkan lagu anak-anak yang memiliki nilai mendidik. Bukan bercampur dengan hegemoni anak remaja yang notabennya, lagu sarat akan cinta.

 
Sadar atau tidak, hanya sedikit sekali yang memperhatikan hal itu, bahkan orang tua pun mendukung anaknya untuk ikut arus keremajaan padehal itu belum sepantasnya untuk diikuti, akhirnya lahirlah anak-anak karbitan yang matang belum waktunya, tak heran jika anak usia lima tahunpun sudah mengenal  tentang cinta, ya cinta, bahkan mereka sudah berani mengatakan tentang pacaran.
Bukan hal yang naïf untuk di perbincangkan, kadang kala saya sering berdiskusi tentang ini, mereka yang bukan di tempah akan calon pendidikpun tahu, akan kebutuhan anak, bukan menyesuaikan dengan perkembangan zaman, dan hal ini lah kesalahan yang dilakukan oleh masyarakat saat ini, khususnya negeri tercinta Indonesia, yang ikut arus modernisasi, tanpa mengerti artinya.
                Aku terlelap dalam nostalgia dibawa mimpi, liar menglanglang buana bersamanya menembus batas tanpa ada perisai yang menghalangi.
                Satu jam aku  tertidur Sayub-sayub terdengar ketukan  pintu dari luar, memanggilku. Sepertinya aku mengenali suara ini, ya aku mengenalinya.  Tebakan ku benar, suara jawa Ambar yang khas dan medok, membuat mimpiku berserakan dan bagikan mozaik-mozaik yang terpisah. Sambil mengucek-ngucek mata dan menjawab panggilannya, langsung menuju pintu.
Seperti kebiasaanku, aku menyukai tidur dilantai dari pada di dipan, namun karena akhir-akhir ini sepertinya tulangku terasa sakit, akhirnya aku memutuskan untuk tidur di dipan, karena dingin lantai berefek buruk bagi kesehatanku.
Ambar  yang sedari tadi memanggilku, dengan muka yang sembab. Terlihat sekali bahwa ada guratan sedih dihatinya. Namun, aku tak langsung bertanya padanya. Ku persilahkan masuk dan ku beri air minum, aku belum melayangkan pertanyaan, sengaja ku biarkan dia menceritakan sendiri apa yang terjadi, sesegukan ia menahan tangis, aku tak menguasai diriku sendiri, aku tak tega melihat sahabat baikku menangis, terlebih belum ku ketahui penyebabnya.
Perlahan ku dekati dan ku peluk erat, diapun menangis sejadi-jadinya. Aku diam dan membiarkan ia lega dengan tangisannya itu. Menangis terkadang merupakan cara ampuh menghilangkan emosional di hati, khususnya wanita yang memeiliki perasaan lembut dan mengatakan padanya setelah menangis tak aka nada tangisan yang kedua.
Ambar memelukku dengan erat, aku memahami karakter dari sahabatku ini, ambar  sosok yang pantang menyerah dan tak mudah untuk menitikan air mata. Dia terbiasa akan didikan keras dari keluarganya. Maklum saja dia anak pertama dan hanya dua bersaudara. Pernah dia menceritakan kisah awal masuk SMA, atas kecerobohannya sendiri lupa membawa pas foto untuk mendaftar,padehal jarak rumah dan sekolah cukup jauh. Alhasil, kopi pahit diterima dan omelan tak terhindarkan,
Aku mengerti tentang ini, sengaja aku tak berbicara sebelum dia menceritakan sendiri kejadian yang ia alami pagi ini, karena dia termasuk tipe orang yang tak ingin dipaksa, kalaupun dia bercerita tanpa perlu di suruh dan pantang meminta bantuan orang lain selagi dia bisa, itu lah hikmah yang ku ambil darinya.
Sedikit kebisuan antara aku dan Ambar, hening tiba-tiba memenuhi ruang kamarku. Aku mencoba mencairkan suasana dengan sedikit menghiburnya dan mencoba membuatnya tersenyum dengan lelucon konyol ala ku sendiri, karena aku bukan termasuk yang pandai membuat lelucon, tak seperti dia, hampir menguasi trik-trik meniru dosen. Dia tersenyum simpul yang terkesan sedikit di paksakan.
Aku tak merasa teringgung meskipun leluconku belum tentu lucu baginya, karena dia orangnya jauh lebih lucu dan unik. Suasana muali mencair, aku mulai memancingnya untuk bercerita dengan sedikit uyonan “Ono opo toh nduk, pagi-pagi udah mewek”  bahasa jawa ku tak terlalu bagus, sehingga terdengar lucu dan konyol, meskipun banyak yang mengatakan face ku jawa, tapi darah Sumatra.heheh..
Jam masih menunjukan pukul 06.45 wib. Sarapan sederhana roti tawar plus susu, dan ku buatkan secangkir energen rasa kacang ijo kesukaan kami berdua. Aku tahu dia juga salah satu pengemar  bubur kacang ijo..
Pagi yang dingin terasa hangat, di temani secangkir energen kacang ijo, sambil bercerita kisah  ambar pagi ini,  karena ayahnya tak menginginkan ambar  berada dalam lingkungan organisasi. Ku yakin kan ambar akan pilihannya. Bahwa organisasi tak menghalangi kita untuk berprestasi dan lulus dengan predikat baik, hanya saja butuh ketekunan dan manajemen waktu yang baik yang akan menghasilkan masa depan yang BAIK.
Senyum itu mulai terlihat, meskipun pagi ini sedikit mendung, namun tetap cerah bagi ku setelah melihat keceriaan ambar kembali.

0 komentar:

Posting Komentar