Secangkir Energen untuk Sahabat..
Udara pagi
hari di Indralaya, khususnya Subuh di musim hujan dinginnya menusuk tulang
persendian. Aku bangun dan langsung menunaikan sholat subuh di lanjutkan
al-mat’surat, berkali-kali mulutku tak berhenti menguap, nampaknya tidurku
terasa kurang, waktu empat jam belum menghilangkan rasa kantuk ini, akhirnya ku putuskan untuk
memejamkan mata sejenak, karena tubuh kita juga mempunyai hak untuk istirahat.
Ketika beribadahpun, Rasulullah juga menganjurkan untuk tidur jika masih dalam
keadaaan mengantuk, karena di takutkan dia tidak focus dan sadar kalau sedang
menghadap tuhannya.
Ku mulai
memejamkan mata, di iringi alunan lagu melayu yang lembut sarat akan kandungan
nasehat ala melayu, aku mulai terbuai dengan alunan musik ini, yang selalu
kurindukan akan kebangkitannya, karena sekarang anak muda dan tua tidak begitu
banyak meminati lagu ini, bahkan anak-anakpun yang seharusnya mendengarkan lagu
anak-anak, tetapi mereka seakan-akan tak menikmati masa itu, inilah salah satu
hal terkadang membuatku gelisah, maklum saja aku yang mulai ditempah akan
menjadi seorang pendidik, berkeinginan unntuk mengubah pola ini, dan
mengenalkan lagu anak-anak yang memiliki nilai mendidik. Bukan bercampur dengan
hegemoni anak remaja yang notabennya, lagu sarat akan cinta.
Sadar atau
tidak, hanya sedikit sekali yang memperhatikan hal itu, bahkan orang tua pun
mendukung anaknya untuk ikut arus keremajaan padehal itu belum sepantasnya
untuk diikuti, akhirnya lahirlah anak-anak karbitan yang matang belum waktunya,
tak heran jika anak usia lima tahunpun sudah mengenal tentang cinta, ya cinta, bahkan mereka sudah
berani mengatakan tentang pacaran.
Bukan hal yang
naïf untuk di perbincangkan, kadang kala saya sering berdiskusi tentang ini,
mereka yang bukan di tempah akan calon pendidikpun tahu, akan kebutuhan anak,
bukan menyesuaikan dengan perkembangan zaman, dan hal ini lah kesalahan yang
dilakukan oleh masyarakat saat ini, khususnya negeri tercinta Indonesia, yang
ikut arus modernisasi, tanpa mengerti artinya.
Aku
terlelap dalam nostalgia dibawa mimpi, liar menglanglang buana bersamanya
menembus batas tanpa ada perisai yang menghalangi.
Satu
jam aku tertidur Sayub-sayub terdengar
ketukan pintu dari luar, memanggilku. Sepertinya
aku mengenali suara ini, ya aku mengenalinya.
Tebakan ku benar, suara jawa Ambar yang khas dan medok, membuat mimpiku
berserakan dan bagikan mozaik-mozaik yang terpisah. Sambil mengucek-ngucek mata
dan menjawab panggilannya, langsung menuju pintu.
Seperti
kebiasaanku, aku menyukai tidur dilantai dari pada di dipan, namun karena
akhir-akhir ini sepertinya tulangku terasa sakit, akhirnya aku memutuskan untuk
tidur di dipan, karena dingin lantai berefek buruk bagi kesehatanku.
Ambar yang sedari tadi memanggilku, dengan muka yang
sembab. Terlihat sekali bahwa ada guratan sedih dihatinya. Namun, aku tak
langsung bertanya padanya. Ku persilahkan masuk dan ku beri air minum, aku
belum melayangkan pertanyaan, sengaja ku biarkan dia menceritakan sendiri apa
yang terjadi, sesegukan ia menahan tangis, aku tak menguasai diriku sendiri,
aku tak tega melihat sahabat baikku menangis, terlebih belum ku ketahui
penyebabnya.
Perlahan ku
dekati dan ku peluk erat, diapun menangis sejadi-jadinya. Aku diam dan
membiarkan ia lega dengan tangisannya itu. Menangis terkadang merupakan cara
ampuh menghilangkan emosional di hati, khususnya wanita yang memeiliki perasaan
lembut dan mengatakan padanya setelah menangis tak aka nada tangisan yang
kedua.
Ambar
memelukku dengan erat, aku memahami karakter dari sahabatku ini, ambar sosok yang pantang menyerah dan tak mudah
untuk menitikan air mata. Dia terbiasa akan didikan keras dari keluarganya.
Maklum saja dia anak pertama dan hanya dua bersaudara. Pernah dia menceritakan
kisah awal masuk SMA, atas kecerobohannya sendiri lupa membawa pas foto untuk
mendaftar,padehal jarak rumah dan sekolah cukup jauh. Alhasil, kopi pahit
diterima dan omelan tak terhindarkan,
Aku mengerti
tentang ini, sengaja aku tak berbicara sebelum dia menceritakan sendiri kejadian
yang ia alami pagi ini, karena dia termasuk tipe orang yang tak ingin dipaksa,
kalaupun dia bercerita tanpa perlu di suruh dan pantang meminta bantuan orang
lain selagi dia bisa, itu lah hikmah yang ku ambil darinya.
Sedikit
kebisuan antara aku dan Ambar, hening tiba-tiba memenuhi ruang kamarku. Aku
mencoba mencairkan suasana dengan sedikit menghiburnya dan mencoba membuatnya
tersenyum dengan lelucon konyol ala ku sendiri, karena aku bukan termasuk yang
pandai membuat lelucon, tak seperti dia, hampir menguasi trik-trik meniru
dosen. Dia tersenyum simpul yang terkesan sedikit di paksakan.
Aku tak merasa
teringgung meskipun leluconku belum tentu lucu baginya, karena dia orangnya
jauh lebih lucu dan unik. Suasana muali mencair, aku mulai memancingnya untuk
bercerita dengan sedikit uyonan “Ono opo
toh nduk, pagi-pagi udah mewek” bahasa
jawa ku tak terlalu bagus, sehingga terdengar lucu dan konyol, meskipun banyak
yang mengatakan face ku jawa, tapi darah Sumatra.heheh..
Jam masih
menunjukan pukul 06.45 wib. Sarapan sederhana roti tawar plus susu, dan ku
buatkan secangkir energen rasa kacang ijo kesukaan kami berdua. Aku tahu dia
juga salah satu pengemar bubur kacang
ijo..
Pagi yang
dingin terasa hangat, di temani secangkir energen kacang ijo, sambil bercerita
kisah ambar pagi ini, karena ayahnya tak menginginkan ambar berada dalam lingkungan organisasi. Ku yakin
kan ambar akan pilihannya. Bahwa organisasi tak menghalangi kita untuk
berprestasi dan lulus dengan predikat baik, hanya saja butuh ketekunan dan manajemen
waktu yang baik yang akan menghasilkan masa depan yang BAIK.
Senyum itu mulai terlihat,
meskipun pagi ini sedikit mendung, namun tetap cerah bagi ku setelah melihat
keceriaan ambar kembali.

0 komentar:
Posting Komentar