Spesial
dari Mama
Makan siang hari ini terasa
hambar, tak begitu menikmati meskipun lauk yang kupilih adalah menu favoritku,
nasi ayam bakar bu’de inem. Tempat ini selalu ramai dikunjungi, dari awal
perkuliahanku hingga saat ini aku tetap memilih kantin bu’de inem sebagai
kantin favorit dan selalu kukunjungi, meskipun hanya sekedar untuk minum es teh
atau es jeruk dengan gorengan yang terhidang dimeja, iya aku suka tempat ini,
bagian belakang kantin yang langsung berada tepat di bawah pohon-pohon rindang
dengan mangga yang sudah ranum siap dipetik
Bu’de inem berusia sekitar 55 tahun, namun
tetap semangat berjualan hingga saat ini, masakannya yang khas membuat siapapun
akan jatuh hati dengan masakannya tersebut. Ayam bakar jawa timur yang paling
khas di warungnya, hingga selalu ramai di pesan oleh mahasiswa maupun orang
umum dan pegawai kampus lainnya.
Ku langkahkan kaki menuju kasir, Ku buka dompetku lembar uang ku berikan pada bu’dee inem, terlihat sepintas foto bersama mamaku di dalam dompetku, langsung ku tutup dan kudengar komentar bu’de inem. Dia menanyakan seberapa sering pulang mudik ke rumah, namun aku terdiam tak dapat menjawab pertanyaan bu’de inem, senyum simpul kuberikan ini sedikit memberiakan jawaban akan ketidakhrmonisan hubunganku dengan ibu, sejak dua tahun yang lalu.
Aku
mengerti, mama butuh pendamping dalam hidupnya. Usianya yang terbilang masih
muda, terampil dan bekerja di sebuah instansi di kotaku, tak elak menawarkan
pernikahan padanya, sejak dua tahun yang lalu setelah perceraian antara mama
dan papa membuatku terpukul. Tenggelam dalam keegosian mereka yang sama-sama
tak mau mengalah. Seperti anak Tk yang baru mau masuk sekolah dasar.
Menjadi
anak semata wayang cukup dilematis bagiku, tak ada tempat untuk bercerita dan
menumpahkan semua keluh kesah yang ada, bahkan mereka selalu tak punya waktu
untukku, setiap kali liburan sekolah, mereka sangat jarang untuk menemaniku
walau hanya sekedar untuk jalan-jalan melihat ombak di lautan atau indahnya
panorama tangkuban perahu, suasana yang kurindukan . Namun ku tak pernah
berhenti berharap akan keutuhan dan kedamaian pada mereka, hingga pada suatu
hari di atas selembar kertas, kehidupan bersama selama 20 tahun di hancurkan
dengan secarik kertas yang tak bernilai bagiku.
Menjelang
kelulusanku di Sma favorit di kotaku, aku memilih untuk kuliah yang jauh dari
tempat asalku, aku muak dengan ibuku, aku muak dengan tingkah mereka seperti
anak kecil yang sama sekali tak memikirkan perasaanku semenjak 20 tahun yang
lalu. Bagaikan di sambar petir di siang bolong, mereka dengan entengnya
menandatangain secarik kertas dan berakhirlah pernikahan mereka.
Hal
lain yang kuingat, manakala mereka memperebutkan hak asuh anak, aku menjadi
getah dari semua ini, di hadapkan pada pilihan yang sulit, di hadapakn pada dua
hal yang seharusnya bersatu, namun harus terpisah. Di saat aku menjalani masa
remaja dengan khidmat, namun aku telah dihadapkan pada keadaan yang cukup
menyakitkan, hingga berefek pada psikologisku, aku membatasi diri, mulai dari
berteman dan cenderung menutup diri pada siapapun meskipun telah lama ku kenal.
Kembali
ku lirik foto di dompetku, setahun aku tak pulang dari awal perkuliahan sampai
sekarang aku yang hampir memasuki semester tiga, aku memang sengaja memilih
unversitas jauh di Medan, jawa bukan lah tujuanku. Jawa terlalu dekat untuk
dikunjungi. Bahkan ketika meminta uang daftar ulang aku tak meminta dengan
mereka, uang tabunganku masih cukup dan aku mengajukan beasiswa, karena aku tak
ingin mereka terbebani, dan aku mempersilahkan mereka untuk sibuk dengan urusan
mereka sendiri, urusanku tak perlu tahu.
Tekadku
besar, menjadi orang yang sukses, baik menjadi karyawan dan bahkan ibu rumah
tangga seklaipun. Pengalaman itu membawa dampak dalam psikologiku, hingga saat
ini. Bercita-cita menjadi orang yang berbeda dari latar belakang ibuku.
Cerita
kelam itu, perlahan terkubur. Mereka tak pernah mengunjungiku. Bahkan ketiak di
Medan aku meminta bantuan temanku yang mempunyai keluarga di sana. Kelulusanku
di Unversitas bergengsi di Medan dengan jurusan ekonomi, membuatku yakin.
Karena itu memang yang ku inginkan. Mereka tak mengantarkanku, karena memang
aku ingin berangkat sendiri dan tak perlu merepotkan orang lain.
Mama
menghubungiku setiap satu bulan sekali, itu pun jarang aku terima, dengan
alasan sibuk tugas dan lain sebagainya. Namun, sebenarnya perasaan rindu yang
mendalam sangat besar pada mereka. Sering kali aku menangis kala mengingatnya.
Tak elak air mata jatuh tiba-tiba tanpa ku sadari.
Sms
berbunyi di hape bututku, ayah dan ibuku memutuskan untuk bersama lagi, aku
seakan bermimpi akan hal ini. Suara telpon bordering di hapeku, ku sambut
dengan nada datar. Karena belum yakin akan hal ini, ayah dan ibuku sedang di
medan dan mencari alamatku.
Sekian
lama harapan ini sirna, akhirnya muncul
manakala aku berada dalam keputusasaan. Siang ini terasa indah dan ringan. Kaki
terasa berjalan begitu cepat. Senyum simpul menunggu kedatangan mama dan papa
di Medan, kota penuh perjuangan ranah batak.

0 komentar:
Posting Komentar