Rabu, 19 Desember 2012


Spesial dari Mama
                Makan siang hari ini terasa hambar, tak begitu menikmati meskipun lauk yang kupilih adalah menu favoritku, nasi ayam bakar bu’de inem. Tempat ini selalu ramai dikunjungi, dari awal perkuliahanku hingga saat ini aku tetap memilih kantin bu’de inem sebagai kantin favorit dan selalu kukunjungi, meskipun hanya sekedar untuk minum es teh atau es jeruk dengan gorengan yang terhidang dimeja, iya aku suka tempat ini, bagian belakang kantin yang langsung berada tepat di bawah pohon-pohon rindang dengan mangga yang sudah ranum siap dipetik
 Bu’de inem berusia sekitar 55 tahun, namun tetap semangat berjualan hingga saat ini, masakannya yang khas membuat siapapun akan jatuh hati dengan masakannya tersebut. Ayam bakar jawa timur yang paling khas di warungnya, hingga selalu ramai di pesan oleh mahasiswa maupun orang umum dan pegawai kampus lainnya.

 
Ku langkahkan kaki menuju kasir, Ku buka dompetku lembar uang ku berikan pada bu’dee inem, terlihat sepintas foto bersama mamaku di dalam dompetku, langsung ku tutup dan kudengar komentar bu’de inem.  Dia menanyakan seberapa sering pulang mudik ke rumah, namun aku terdiam tak dapat menjawab pertanyaan bu’de inem, senyum simpul kuberikan ini sedikit memberiakan jawaban akan ketidakhrmonisan hubunganku dengan ibu, sejak dua tahun yang lalu.
Aku mengerti, mama butuh pendamping dalam hidupnya. Usianya yang terbilang masih muda, terampil dan bekerja di sebuah instansi di kotaku, tak elak menawarkan pernikahan padanya, sejak dua tahun yang lalu setelah perceraian antara mama dan papa membuatku terpukul. Tenggelam dalam keegosian mereka yang sama-sama tak mau mengalah. Seperti anak Tk yang baru mau masuk sekolah dasar.
Menjadi anak semata wayang cukup dilematis bagiku, tak ada tempat untuk bercerita dan menumpahkan semua keluh kesah yang ada, bahkan mereka selalu tak punya waktu untukku, setiap kali liburan sekolah, mereka sangat jarang untuk menemaniku walau hanya sekedar untuk jalan-jalan melihat ombak di lautan atau indahnya panorama tangkuban perahu, suasana yang kurindukan . Namun ku tak pernah berhenti berharap akan keutuhan dan kedamaian pada mereka, hingga pada suatu hari di atas selembar kertas, kehidupan bersama selama 20 tahun di hancurkan dengan secarik kertas yang tak bernilai bagiku.
Menjelang kelulusanku di Sma favorit di kotaku, aku memilih untuk kuliah yang jauh dari tempat asalku, aku muak dengan ibuku, aku muak dengan tingkah mereka seperti anak kecil yang sama sekali tak memikirkan perasaanku semenjak 20 tahun yang lalu. Bagaikan di sambar petir di siang bolong, mereka dengan entengnya menandatangain secarik kertas dan berakhirlah pernikahan mereka.
Hal lain yang kuingat, manakala mereka memperebutkan hak asuh anak, aku menjadi getah dari semua ini, di hadapkan pada pilihan yang sulit, di hadapakn pada dua hal yang seharusnya bersatu, namun harus terpisah. Di saat aku menjalani masa remaja dengan khidmat, namun aku telah dihadapkan pada keadaan yang cukup menyakitkan, hingga berefek pada psikologisku, aku membatasi diri, mulai dari berteman dan cenderung menutup diri pada siapapun meskipun telah lama ku kenal.
Kembali ku lirik foto di dompetku, setahun aku tak pulang dari awal perkuliahan sampai sekarang aku yang hampir memasuki semester tiga, aku memang sengaja memilih unversitas jauh di Medan, jawa bukan lah tujuanku. Jawa terlalu dekat untuk dikunjungi. Bahkan ketika meminta uang daftar ulang aku tak meminta dengan mereka, uang tabunganku masih cukup dan aku mengajukan beasiswa, karena aku tak ingin mereka terbebani, dan aku mempersilahkan mereka untuk sibuk dengan urusan mereka sendiri, urusanku tak perlu tahu.
Tekadku besar, menjadi orang yang sukses, baik menjadi karyawan dan bahkan ibu rumah tangga seklaipun. Pengalaman itu membawa dampak dalam psikologiku, hingga saat ini. Bercita-cita menjadi orang yang berbeda dari latar belakang ibuku.
Cerita kelam itu, perlahan terkubur. Mereka tak pernah mengunjungiku. Bahkan ketiak di Medan aku meminta bantuan temanku yang mempunyai keluarga di sana. Kelulusanku di Unversitas bergengsi di Medan dengan jurusan ekonomi, membuatku yakin. Karena itu memang yang ku inginkan. Mereka tak mengantarkanku, karena memang aku ingin berangkat sendiri dan tak perlu merepotkan orang lain.
Mama menghubungiku setiap satu bulan sekali, itu pun jarang aku terima, dengan alasan sibuk tugas dan lain sebagainya. Namun, sebenarnya perasaan rindu yang mendalam sangat besar pada mereka. Sering kali aku menangis kala mengingatnya. Tak elak air mata jatuh tiba-tiba tanpa ku sadari.
Sms berbunyi di hape bututku, ayah dan ibuku memutuskan untuk bersama lagi, aku seakan bermimpi akan hal ini. Suara telpon bordering di hapeku, ku sambut dengan nada datar. Karena belum yakin akan hal ini, ayah dan ibuku sedang di medan dan mencari alamatku.
Sekian lama  harapan ini sirna, akhirnya muncul manakala aku berada dalam keputusasaan. Siang ini terasa indah dan ringan. Kaki terasa berjalan begitu cepat. Senyum simpul menunggu kedatangan mama dan papa di Medan, kota penuh perjuangan ranah batak.



0 komentar:

Posting Komentar